Minggu, 25 Oktober 2009

TERBENTUKNYA MAPABA PMII METRO KUKAR DI HARAPKAN MEMBERIKAN KONTRIBUSI POSITIV


Sebanyak 15 mahasiswa Universitas Kutai Kartanegara (Unikarta), Sabtu (24/10) mengikuti Masa Penerimaan Anggota Baru (Mapaba) Priode Pertama, bertempat di Sekretariat Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Metro Kukar Jl. Gunung Sentul Kutai Kartanegra.
Melihat realita yang ada di perguruan Tinggi khususnya di wilyah Kukar, para mahasiswa sangat dibodohi oleh para petinggi penting Universitas itu. Hingga kami bertekad merekrut anggota baru untuk melawan rezim otoriterian.
Garis besar kepemimpinan yang diterapkan oleh pihak kampus untuk saat ini bisa dikatakan lumpuh. Pasalnya dari persoalan sepele saja mereka tidak bisa menyelesaikannya. Ini yang menjadikan hati kami terbuka dan ingin membuka gedok mereka didepan publik.
“Saat ini bisa dibilang mahasiswa hanya terlena dengan dominasi penguasa tanpa adanya perlawanan, sangat disayangkan sebagai insan yang berpendidikan mau saja dibodohi mereka,” Kata Ketua PMII Metro Panda Lubis saat sharing bersama kader yang baru.
Sementara itu pengamat Pergerakan bangkit Unikarta Sujatmiko mengatakan, seharusnya penanaman ideologi perlu kita tanamkan terhadap mahasiswa sejak dini, karena selain bisa membatasi ruang gerak mereka yang sangat menindas juga berdampak positiv terhadap kemajuan pemikiran keritis mereka.
“Saat ini banyak mahasiswa yang apatis terhadap kondisi sosial mereka, misalnya saja ketika ada kebijakan dari Rektorat yang jelas-jelas merugikan para mahasiswa taksatupun mahasiswa yang berani menentang padahal disini jelas tertulis mahasiswa itu kaum intelektual,” ujar Sujatmiko
Menurut Mawardi dan Zaenal Abidin didampingi Gunawan sekaligus Andik menerangkan, sudah sejak lama pihaknya mengeluhkan persoalan Kampus terutama yang baru-baru ini masalah SK PJ Bupati tentang persyaratan Beasiswa. Bukan hanya persoalan itu saja yang pihaknya keluhkan masalah parkir, ruang kuliah, perpustakaan, fasilitas hingga persoalan Kartu Tanda Mahsiswa (KTM).
Terkait dengan roda kezaliman yang dijalankan para petingi penting di Universitas, untuk itu kami PMII Metro Kukar diharapkan mampu membuka wacana yang baik terhadap kemajuan Kampus.
“Kami harapkan dengan diadakannya perekrutan kader-kader yang baru ini , mereka memiliki modal keberanian, analisis sosial dan strategi gerakan agar lebih konsisten menyikapi permasalahan yang sedang menyelimuti Kampus Unggu, dengan cara menkordinir mereka,” harap PMII Metro Kukar. Jurnalistik Metro

Selanjutnya......

Sabtu, 02 Mei 2009

AKSI MAY DAY DI KUTAI KARTANEGARA MENUNTUT PEMERINTAH STOP IZIN KUASA PERTAMBANGAN


PMII METRO dan Forum Mahasiswa Pro Demokrasi Kutai Kartanegara menggelar aksi damai di kampus kemudian dilanjutkan orasi selama satu jam di bundaran jembatan bongkok, Jum’at (1/5) pada peringatan hari buruh sedunia (May Day). Mereka menyerukan pada masyakat bahwa May Day bukanlah sekedar hari buruh.

Pada kesempatan itu mereka menyampaikan tuntutannya antara, tolak PHK massal terhadap buruh, tolak sistem kerja kontrak, cabut SKB 4 menteri, tingkatkan kesehjahteraan buruh, naikkan upah buruh tani, cabut UU BHP, tolak sistem komersialisasi pendidikan, realisasikan anggaran pendidikan 20 persen dan hentikan pemotongan subsidi pendidikan, wujudkan sekolah gratis dan kuliah murah serta Jaminan Kebebasan akademik, mimbar akademik dan berorganisasi di kampus. Selain itu mereka juga menuntut kepada pemerintah untuk menyediakan lapangan pekerjaan yang layak dan memadai bagi lulusan sekolah dan perguruan tinggi.

Sementara itu koordinotor aksi, Sujatmiko juga merasa khawatir melihat penambangan batu bara yang di lakukan oleh perusahaan asing di Kaltim semakin merajalela. Menurutnya, Pemerintah Daerah seharusnya mulai memikirkan sektor lain, seperti perkebunan dan pertanian sebagai sumber pendapatan daerah, bukan malah mengeruk habis batu bara di wilayah Kaltim. Salah satu maraknya penambangan di kaltim adalah berlakunya UU Penanaman Modal No. 25 th 2007 yang memberi kelonggaran investor asing untuk mengembangkan perusahaan mereka di Indonesia, tambahnya.

”Akibat penambangan tersebuat, bencana banjir sering terjadi di sini, pertanian dan perkebunan bertambah sempit. Padahal penambangan itu hanya bersifat sementara. Kami tidak setuju kalau pemerintah selalu memberi izin kuasa penambangan bagi investor. Pemerintah Daerah seharusnya tahu akibat-akibat yang bakal terjadi pasca penambangan. Selain itu keseriusan pemerintahpun tidak ada untuk melakukan reklamasi dan penghijauan pasca penambangan. Inikan sangat berbahaya bagi masyarakat ke depannya”, ujar Yusi Iswanto salah seorang anggota forum di atas.

Pada pertengahan aksi, Desi Hanaria, seorang anggota forum membacakan puisi Tujuan Kita Satu karangan Wiji Tukul,

” Kutundukkan kepalaku,
bersama rakyatmu yang berkabung
bagimu yang bertahan dihutan
dan terbunuh digunung
di timur sana,

Di hati rakyatmu,
tersebut namamu selalu
dihatiku
aku penyair mendirikan tugu
meneruskan pekik salammu
"a luta continua"

Kita tidak sendirian
kita satu jalan
Tujuan kita satu ibu : Pembebasan

Kutundukkkan kepalaku
kepada semua kalian para korban
sebab hanya kepadamu kepala kutunduk
kepada penindas
tak pernah aku membungkuk
aku selalu tegak”.

Mereka akan selalau menyuarakan hak-hak demokratik rakyat kepada pemerintah, pengakuan mereka selama ini Pemerintah tidak serius memenuhi hak-hak rakyat, misalnya hak memperoleh pendidikan dan pekerjaan yang layak, karena sampai hari ini pendidikan semakin mahal dan pekerjaan bertambah sulit

Selanjutnya......

Sabtu, 14 Maret 2009

PAHLAWANKAH DIA?

Oleh Yusri
Malam yang terasa amat dingin karena sepertinya cuaca malam itu kurang bersahabat yang dapat dilihat dari menghilangnya bulan dan bintang-bintang yang ditutupi oleh awan hitam yang tebal sehingga membuat oang-orang pada enggan untuk keluar rumah. Berangkat dari perasaan bosan karena dari siang selepas pulang kerja selalu berada dirumah saja tanpa ada aktivitas akan membuat kejenuhan tersendiri. Dengan langkah yang tidak pasti ku pacu sepeda motorku mengelilingi suasan malam Kota Raja Tenggarong, belum lama berjalan tiba-tiba Handphonku berdering satu panggilan dari seorang teman kuliah memanggilku. Singkat cerita dia menyuruhku datang ke-Pelabuhan Museum Mulawarman, karena memang temanku seorang motoris kapal penyebrangan menuju pulau Kumala, tanpa pikir panjang lagi ku putar sepeda motorku menuju tempat yang temanku sudah menunggu. Tapi sebelum menuju pelabuhan tersebut aku pulang ke-kost-an dulu untuk mengambil pancing. Karena ku pikir akan lebih seru sambil diskusian atau ngobrol-ngobrol nantinya sambil mancing jukut atau udang, sesampainya aku dipelabuhan tersebut ternyata sudah ada dua orang sahabatku yang menunggu kehadiranku.
Memang kami biasanya selalu berkumpul bertiga...yah kalau ada trio macan...kami mirip-mirip trio Raja Singa, karena sudah terbiasa selalu ngumpul dengan teman2 dikapal pelabuhan tanpa terasa kami sudah larut dalam pembicaraan mulai dari topik anak dewasa, politik, sosial, ekonomi, dan budaya semua kami lahap sampai habis walaupun dalam hal-hal tersebut kami masih dalam proses belajar, tapi ku pikir inilah masanya pembelajaran. Saking terlalu seriusnya kami berdiskusi sampai-sampai tanpa kami sadari ada suara seorang perempuan minta izin numpang kekamar kecil untuk buang air kecil, karena memang tidak mengganggu kami mempersilahkan perempuan tersebut untuk meminjam kamar kecil itu...ya hitung-hitung membantu orang lain lah...siapa tahu dicatat oleh malaikat kebaikan karena sudah membantu dengan iklas. Tapi dibalik itu semua timbul pertanyaan dalam hatiku di malam yang dingin dan mendung begini ditambah lagi jam sudah menunjukkan suasana yang sudah agak larut malam yang sejatinya tidak pantas seorang perempuan kalayapan dimalam yang mana orang-orang pada ingin memeluk bantal guling berdiam diri didalam rumah..tapi ini kok tidak?, larut dalam pemikiranku yang selalu bertanya-tanya. Tiba-tiba muncul perempuan tadi yang ada dalam lamunanku, tanpa disadari lagi perempuan tersebut ikut nimbrung bergabung dengan kami yang notabene kami tidak mengenalnya, yang sebelumnya dia mengucapkan terima kasih karena kami sudah berbaik hati mengizinkan dia untuk kekamar kecil. Selanjutnya karena perempuan itu bergabung dengan kami otomatis diskusian kami terhenti dan sebagai orang yang mengerti tata krama kami lebih mengutamakan tamu...karena kami menganggap perempuan tadi sebagai tamu, karena perempuan tersebut cukup supel dengan kami walaupun sama-sama saling tidak mengenal kami sudah terlibat dalam pembicaraan yang tidak tidak tentu arahnya, karena cukup lama terlibat dalam pembicaraan yang tidak tentu arahnya tadi aku mulai memahami siapa si perempuan itu, ternyata dia adalah seorang chicken night, walaupun aku tidak menanyakan namanya tapi dia selalu menjawab semua yang kami tanyakan, mulai dari awal hidupnya sampai dia bisa berenang dalam kubangan hitam sampai dengan price dia..astagfirullah.
Ternyata dia seorang janda yang ditinggalkan suaminya dengan mempunyai tiga orang anak yang kesemuanya anak perempuan, dilihat dari wajahnya seakan tidak sesuai dengan usianya yang sudah memiliki tiga orang anak, tapi kemungkinan dia menikah di usia yang muda. Semakin larutnya kami terlibat pembicaraan dengan perempuan itu semakin bisa saya memahami dengan kehidupan malam yang dijalaninya, ternyata selain karena faktor kecewa dengan pria yang pernah menjadi suaminya dulu dia juga terbentur faktor ekonomi yang katanya demi memenuhi kebutuhan anak-anaknya yang masih kecil-kecil. Jujur saya akui walaupun saya seorang laki-laki tapi hati saya akan mudah tersentuh, terenyuh, dan miris ketika menyaksikan kondisi realitas kehidupan salah satu warga masyarakat itu. Mungkin ini karena jiwa saya selalu ditempa di organisasi yang saya terjuni yang selalu menginginkan kepekaan dan kepedulian terhadap semua kejadian yang terjadi di lingkungan masyarakat kita. Bertepatan tidak beberapa hari lagi kita akan memperingati hari kemerdekaan Republik Indonesia yang ke 65 yang biasanya akan ada moment mulai penghormatan terhadap para pahlawan mulai dari yang masih hidup sampai yang sudah meninggal dan juga pemberian penghargaan kepahlawanan terhadap yang sudah berjasa dalam membangun negara ini, membangun kehidupan masyarakatnya. Tapi apakah ada sebuah bentuk penghargaan yang dapat diberikan kepada seorang perempuan yang demi keluarga, anak rela mengorbankan hidup dan harga dirinya asalkan keluarga dan anak-anaknya bisa makan dan menyongsong hari esok yang belum tentu dapat mereka lalui. Penghargaan yang dapat kita berikan sudah barang tentu bukan dalam bentuk simbol-simbol tapi dapat dalam bentuk penghargaan menghormati, menghargai dan tidak memandang mereka dengan wajah menghadap kedepan mata melirik kesamping. Karena tanpa kita sadari dibalik pekerjaan yang dijalaninya terdapat sebuah perjuangan dan pengorbanan, perjuangan untuk hidup anak-anaknya dan keluarganya. Yang bagi kita yang dapat memahami dan menghargainya yang dapat mengatakan dia sebagai pahlawan...pahlawan bagi anak-anaknya, bagi keluarganya.

Selanjutnya......

Sabtu, 16 Agustus 2008

Jejak Lama di Kutai Lama

(Sebuah catatan awal menelusuri subaltern history)
Oleh : Abdullah Naim

Hujan rintik-rintik menyambut saya di saat memasuki pintu gerbang desa Kutai Lama Kecamatan Anggana Kutai Kartanegara Kalimantan Timur, pada awal Agustus 2008. Di dekat pintu gerbang desa itu ada papan plang yang bertuliskan “PT. Alfara Delta Persada, pertambangan batubara luas 2.089 Hektar”. Mungkin pesan tulisan ini juga bermaksud agar berhati-hati memasuki kawasan pertambangan yang masih dalam wilayah desa Kutai Lama.
Menuju desa Kutai Lama melalui jalan darat dan melintasi Sambutan dari arah Kota Samarinda Ke Timur dapat ditempuh 45 menit kendaraan sepeda motor. Saya menikmati perjalanan ke Kutai Lama kali ini. Betapa tidak, sebelum mencapai Anggana terhampar di sisi kiri dan kanan jalan panorama sawah yang sedang menebar pesonanya, karena ia tumbuh subur setinggi dua jengkal orang dewasa. Apalagi barisan Dewi Sri itu diterpa angin sepoi sehingga ia seolah penyanyi dangdut yang baru memulai goyangannya. Bagi orang yang memperhatikannya bisa dibuat tersenyum sambil menggit bibir dan mulai mengikuti alunannya.

Sebelum naik kapal peyeberangan Sungai Kutai Lama dalam, saya menyempatkan diri memandangi sejenak arsitektur klasik bergaya Belanda yang lapuk dan ditelantarkan begitu saja di dekat Kawasan Medco, perusahaan gas alam. Hati saya berdetak berkata, betapa kuat penetrasi kolonial yang masih berlanjut hingga hari ini. Walau bangunannya lapuk namun watak koloninya masih terus berjalan tanpa henti.

Betul saja dugaan saya. Selepas dari pintu gerbang desa, saya menyaksikan kawanan pengangkut batubara melintasi dan memotong jalan desa yang telanjang tak beraspal menuju tempat pengapalan. Perusahaan Alfara Delta Persada ibarat penyambut tamu bagi siapa saja yang berkunjung ke desa Kutai Lama. Tidak jauh dari lintasan perusahaan Batubara pertama, berturut-turut ada kawanan perusahaan batubara yang ditandai dengan pos keamanan Perusahaan Sinar Kumala Naga (SKN) dan Kartanegara Perkasa sambil seorang dari securiti mengacung-acungkan bendera merahnya untuk mengatur di jalur lintas pengankut batubara. Menurut orang-orang kampung, Konon perusahaan batubara yang ada di desa Kutai Lama adalah milik keluarga Syaukani HR mantan Bupati Kutai Kartenagara yang saat ini sedang dalam tahanan sebab tersandung kasus korupsi.

Pesona Sejarah Kutai yang multitafsir

Kutai Lama memainkan peran penting dalam sejarah, karena ia selalu disebut-sebut sebagai pusat awal kekuasaan Kerajaan Kutai Kartanegara dengan raja pertama bergelar Batara Agung Dewa Sakti yang turun dari langit dengan permaisuri Puteri Karang Melenu yang konon datang dari buih Sungai Mahakam. Selain itu, Kutai Lama disebut-sebut sebagai perjumpaan awal kedatangan Islam yang dibawah oleh Tunggang Parangan dan Ribandang.

Saat ini, Kutai masih menjadi klaim tersendiri bagi masing-masing komunitas di dua kampung antara Muara Kaman dan Kutai Lama. Bagi Komunitas Muara Kaman, Kutai sesungguhnya diawali dari Muara Kaman. “Kutai Tenggarong itu sebenarnya adalah buatan Belanda,” ujar Asminan salah seorang penduduk Muara Kaman yang rajin mengumpulkan peninggalan purbakala.

Hal yang sama juga saya temukan penguakuan sebagian masyarakat di Kutai Lama yang meyakini bahwa asal muasal ke-Kutai-an berawal dari Kutai Lama. “Kutai itu menurut orang tua kampung disini ya ini sudah (Kutai Lama) bukan Muara Kaman” kata pak Haji Azis sambil ia menjelaskan keberadaan makam raja Aji Mahkota dan raja Aji Dilangga. Riwayat asal mula nama Kutai ini juga datang dari Muis salah satu tetuah kampung di Kutai Lama yang menyebut bahwa konon, suatu saat ketika hendak memberi nama kampung Kutai ini, seorang warga yang diberi tugas dengan mengelilingi kampung ditemani sebuah sumpit. Tiba-tiba orang itu melihat tupai di atas pohon petai lalui menyumpitnya. Setelah tupai itu terjatuh ia kemudian berpantun ”Tupai di pohon petai jatoh ke kumpai”. Dari pantun itulah muncul nama Kutai. Riwayat ini sebetulnya ingin menjelaskan bahwa awal ditemukannya nama Kutai ada di Kutai Lama.

Jika di Kutai Lama banyak disebut-sebut sebagai tempat awal kedatangan Islam yang ditandai dengan Makam Tunggang Parangan sebagai pembawa misi Islam (Islamisasi), maka di Muara Kaman juga terdapat sebuah Makam yang dikenal di masyarakat setempat sebagai Syekh Al-Magribi yang mereka yakini sebagai pembawa Islam pertama kali di Kalimantan Timur. Sayangnya di Makam Syekh Al-Magribi, saya hanya bisa membaca tulisan Arab “Sallallahu alaihi wasallam” di nisan kayu setinggi 60 cm itu. Selebihnya, tulisan pahat itu terabaikan karena mungkin pengetahuan membaca saya hanya bisa Arab Quraisy dan juga karena tulisannya kabur termakan zaman.

Tetapi yang menarik adalah di desa Kutai Lama, ada perbincangan tentang tafsir masa silam. Sebagaian mereka memaknai bahwa masa silam yang banyak dibicarakan itu disayangkan karena bukti-bukti peninggalan sejarahnya tidak ditemukan. Bukti yang ada hanya makam Tunggang Parangan dengan dua raja yang berhasil di Islamkannya, raja Aji Mahkota dan raja Aji Dilangga yang di kunjungi oleh ribuan peziarah setiap bulannya. “Sejarah disini tidak jelas karena bukti-bukti peninggalannya tidak ditemukan”, kata Syahrul salah seorang penduduk Kutai Lama. Ia lebih lanjut menjelaskan bahwa menurut tetua kampung Kutai Lama, apa yang disebut negeri Jahitan Layar yang disebut-sebut sebagai pusat kekuasaan, sama sekali tidak ada jejak peninggalan yang bisa membuktikan sebagai kerajaan. Konon kerajaan ini disembunyikan dengan maksud tertentu untuk menghindari serangan musuh. “Boleh juga area kerajaan ini tertimbun dan ditutupi oleh pasir karena bencana alam,” lanjut Syahrul berusaha meyakinkan.

Untuk melihat lebih dekat bagaimana kondisi Jahitan Layar yang selalu disebut-sebut dalam sejarah mainstream itu, saya mengajak Syahrul dan sahabat – sahabat PMII Cabang Metro Kutai Kartanegara ke lokasi yang diyakini sebagai Jahitan Layar. Ternyata wilayah itu adalah kawasan perbukitan pasir seluas 4 kali lapangan sepak bola yang sebagiannya gundul dan sebagian lainnya ditumbuhi pohon-pohon kecil setinggi 4-5 meter. Saat ini masyarakat setempat ada yang mencoba menanam karet di areal tersebut. Di Jahitan Layar yang terletak 700 meter dari perkampungan Kutai Lama, saya hanya menemukan fosil kayu yang sudah membatu berdiameter 40 cm dan panjang 8 meter. Sementara di depan bukit pasir itu terdapat tulisan di papan kecil seperti nama jalan. “Butuh pasir silahkan hubungi 0852..”. Ya kawasan itu adalah tempat penambangan pasir yang biasa digunakan oleh penduduk desa.

Sejarah Gelap VS Sejarah Terang, Benarkah?

Sepulang dari bukit Jahitan Layar saya bertanya dalam hati. Apa sesungguhnya yang disebut sebagai “sejarah jelas”?. Apa itu tirai kegelapan?. Apakah sejarah selalu harus “jelas”?. Apakah salah jika sejarah itu kadang-kadang jelas kadang-kadang gelap?. Atau apakah tidak boleh andaikata saya menafsirkan dalam sejarah gelap ada terang dan dalam sejarah yang disebut sejarah terang ada gelap?.

Bagi Syahrul, jika ini pusat kerajaan maka mestinya ada yang membuktikannya. Begitu juga makam raja-raja sebelum raja Aji Mahkota yang tidak ditemukan rimbahnya. Pandangan lain juga datang dari Pikal salah seorang penduduk setempat yang menganggap bahwa masa silam Kutai Lama tidak peduli apakah jelas atau tidak, itu juga terbukti dengan sikapnya yang acuh tak acuh dengan masa lalu di Kutai Lama. Meski demikian Pikal sendiri masih menjalani ritus ziarah makam ke para aulia yang mereka sebut makam keramat. Lain lagi dengan pandangan Iwan yang memadukan antara sejarah tulis dan sejarah yang turun-temurun (tutur). “ Saya disamping membaca buku sejarah Kutai yang ditulis oleh para sejarawan, saya juga mempercayai dan mendengar cerita-cerita dari orang tua kampung di sini,” kata Iwan yang juga pemegan kunci Makam raja Aji Dilangga.

Boleh jadi pandangan Syahrul ini berkaitan dengan soal banyaknya penulis “sejarah Kutai” yang menyebut-nyebut tentang masa gelap. Salah satunya Adib MA yang juga dosen STAIN Samarinda ini misalnya menulis artikel sejarah Kutai di salah satu situs yang menganggap perlunya merekonstruksi sejarah Kutai karena adanya tabir kegelapan. Menurutnya analisis artefak belum dapat mengungkap tabir kegelapan itu. Sayang, Adib tidak menyebut mengapa harus ada rekonstrusi? Untuk apa?. Apa keuntungan komunitasnya. Malahan ia hanya menyebut rekonstruksi untuk kepentingan melestarikan aspek sejarah dan budaya kesultanan Melayu di wilayah Nusantara. Saya khawatir rekonstruksi sejarah semacam itu hanya untuk diinvensi dan dikomodifikasi untuk kepentingan kekuasaan. Terbukti ritus Erau yang belakangan terlaksana sudah dikomodifikasi yang konon tidak lagi “menguntungkan” pemeluknya.

Saya kira ada juga baiknya untuk merenungkan pendapat Edwar Said tentang cara kerja sejarah. Menurutnya cara melihat masa silam menentukan cara kita memperlakukan masa kini dan yang akan datang. Justru disinilah persoalannya, kita dapat menyaksikan dewasa ini bagaimana cara pemerintah dalam memperlakukan apa yang disebut “masa kini” yang selalu ingin membuat pariwisata budaya, dan sejarah dalam bentuk seperti Pulau Kumala yang dibanguni Lamin dan patung lembuswana ditambah dengan agenda lomba tari-tarian yang sama sekali sudah tidak lagi “dibutuhkan” oleh pemeluknya. Kecuali mungkin hanya untuk foto-foto.

Bukankah perlakuan semacam itu karena “kekeliruan” dalam memandang “masa lalu”. Bagi saya, sejarah bukanlah “barang baku” ia adalah teks masa silam yang senatiasa berubah-ubah tergantung bagaimana cara melihatnya. Melestarikan aspek sejarah dan budaya bisa terjebak pada romantisme masa silam yang hanya memandang masyarakatnya seperti museum. Padahal masyarakat yang punya tafsir sejarah selalu dinamis yang dengan sendirinya berdialektika terus-menurus dengan zamannya. Masyarakat juga berubah-ubah termasuk dalam membaca masa silamnya.

Pada persoalan ini saya bukan mau mengatakan bahwa menyingkap tabir sejarah itu tidak penting. Tetapi mengkategorisasi sejarah gelap dan terang secara sederhana, itu yang tidak penting bagi saya. Menurut saya, kalau dianggap ada tabir kegelapan dalam sejarah Kutai maka mengapa tidak ditulis saja proses menjadi gelapnya sejarah Kutai itu?. Bahkan yang seringkali terabaikan dalam studi sejarah adalah bahwa kekuasaan senantiasa mengkonstruksi model sejarah yang akhirnya menjadi penyokong kekuasaan. Nah, disinilah persoalan kita saat ini mengenai “sejarah Kutai”. Karena ternyata sejarah Kutai masih didominasi sejarah kekuasaan dan penaklukan. Sementara sejarah subaltern, tidak mendapat tempat. Bahkan sejarah yang tersimpan dalam ingatan orang-orang kecil dianggap bukan sejarah.

Terlepas dari persoalan itu, saya mencoba menelusuri jejak yang tersimpan dalam kepala (ingatan) masyarakat Kutai Lama. Saya kemudian mulai melacak dari riwayat desa Kutai Lama.

Dalam pengetahuan Muis yang sekarang pemegang kunci makam raja Mahkota bahwa diyakini ada suatu masa setelah zaman para raja Kutai berkuasa di Jahitan Layar (Kutai Lama) pindah ke Jembayan dan Tenggarong, Kutai Lama ini sudah tidak lagi berpenghuni. Itu dibuktikan dengan pengakuan Muis bahwa yang membuka pertama hutan rimba di Kutai Lama ini ada 4 orang. Mereka berasal dari Sungai Meriam yang meminta izin kepada Sultan Kutai di Tenggarong untuk membuka lahan perkebunan di Kutai Lama yang dulu disebut Jahitan Layar atau Tepian Batu.

Berbekal izin dari Sultan Muhammad Parikesit, H. Japri, Arsa Jaya, Paman Tungku dan seorang lagi tidak diingat namanya, mengelola Kutai Lama ini untuk kepentingan perkebunan dan pemukiman. Lambat laun setelah empat orang ini membuka lahan di Kutai Lama ini secara berangsur-angsur banyak masyarakat datang untuk bermukim di Kutai Lama yang saat ini dihuni oleh campuran Bugis dan Koetai. “Setelah ditinggal para raja, kampung ini berubah menjadi hutan. Makanya orang takut membuka kampung ini, selain pohonnya besar-besar juga tempat ini (Kutai Lama) dianggap keramat dan penuh misteri. Nah kakek sayalah yang memulai membuka kembali,” kata Muis Yang juga penjaga makam Raja Aji Mahkota dan Raja Aji Dilangga.

Sebelum saya ke Kutai Lama, saya memulai membuka-buka sejarah tulis Kutai. Ternyata dari dokumen-dokumen sejarah itu hanya membincang sejarah tahun (waktu sekuler) berikut aktor-aktornya. Saya tidak menemukan bagaimana setting sosial dan laku budaya lokal (perjumpaan kebudayaan) ketika raja membangun tahta kerajaan Kutai Kertanegara. Begitupula sejarah di saat Tunggang Parangan datang untuk mengislamkan raja Mahkota yang hanya memuat adu kesaktian dua pembesar itu yang selalu dimenangkan oleh Tunggang Parangan.

Untuk sementara abaikan saja dulu perbincangan soal masa silam yang “kusut” tak karuan itu (kompleksitas). Yang pasti masyarakat Kutai Lama yang mayoritas bekerja di tambak muara Mahakam ini tengah menggelisahkan tentang mata air dibalik bukit Jahitan Layar. “Saya menghawatirkan mata air yang sudah menghidupi dan mengaliri sekitar 700-an rumah di Kutai Lama selama bertahun-tahun akan mati seperti di wilayah lain, gara-gara aktifitas pertambangan. Memang saat ini belum terasa dampaknya, tapi ke depan kalau terus-terus digali dan dikerumuni kampung ini oleh perusahaan batubara lama-lama bencana akan datang juga,” tutur Syahril yang dibenarkan oleh Pikal yang juga generasi muda Kutai Lama.

Kutai Lama di samping memendam sejarah masa silam yang penuh dengan pesona, ternyata juga tersimpan dalam perut buminya batubara dan gas alam yang menggiurkan bagi pemburu fosil yang tak terbarukan ini. Apakah Kutai Lama masih akan lama melanjutkan riwayat kehidupanya? Kita tunggu saja cerita berikutnya.

Selanjutnya......

Sabtu, 19 Juli 2008

TILASAN NENEK MOYANG SEBAGAI NUSANTARA (BUKAN JAWA, DAYAK, BUGIS, BATAK, AMBON ATAU SUKU-SUKU LAINNYA)

Oleh : Sujatmiko
PMII Metro Kukar

Bangsa Saudagar
Sebelum misi-misi kolonialisme barat masuk bumi Nusantara, konon nenek moyang kita adalah bangsa yang kuat dan tangguh dalam pelayaran. Entah itu cerita belaka atau hanya sekedar dongeng yang dilantunkan sebelum anak-anak mereka tidur. Kebenaran mutlak tidak bisa kita jumpai dengan cara apapun. Meskipun begitu masyarakat modern mempercayai, dengan riset para ilmuan dari berbagai negara, bahwa penemuan-penemuan ciri fisik yang didapat dari alam membenarkan bahwa Nusantara ini pernah berjaya dan disegani negeri-negeri barat. Keterampilan dan keramahannya itu memudahkan berinteraksi dengan masyarakat-masyarakat negeri lain. Sehingga dimanapun mereka merantau selalu diterima dengan baik oleh penduduk setempat. Kepawaian dalam berdagang menjadi modal dasar bagi mereka sehingga dalam berinteraksi dan bernegosiasi tidak diremehkan. Tanah kita yang subur dimanfaatkannya secara alami, kemudian hasil panennya dibawa ke negeri-negeri seberang. Kedatangan mereka itu dinanti-nanti oleh penduduk-penduduk negeri seberang karena mereka tidak mempunyai tanah yang dapat ditanami seperti tanah kita. Sampai-sampai ada ungkapan “biji dari sisa kotoran burungpun bisa tumbuh dan berbuah di bumi nusantara”, bagaimana tidak gemah ripah loh jinawi bumi kita ini. Biji-bijian yang belum disterilkanpun bisa tumbuh subur. Hasil panen yang kita miliki itu menjadi sesuatu yang langka untuk masyarakat negeri seberang. Mereka juga berani membeli dengan mahal. Dari perdagangan inilah Nusantara mulai dikenal mancanegara dan para saudagar asing berbondong-bondong datang. Seiring dengan arus diplomasi perdagangan, disadari atau tidak mereka sudah saling memperkenalkan budaya masing-masing yang melahirkan akulturasi budaya. Sehingga beraneka budaya baru muncul ditengah-tengah pergulatan masyarakat yang tanpa menghilangkan nilai budaya asli masing-masing. Persilangan budaya antar enis dan bangsa itu masih berlangsung terus menerus samapai hari ini. Dan konteks budaya dalam hal ini bukan hanya pada tataran seni atau makna kata budaya pada salah satu departemen pemerintahan Indonesia tapi diartikan sebagai pengejawantahan seluruh aspek kehidupan seperti tata cara berperilaku, bentuk keyakinan-keyakinan dan sikap-sikap, dan semua hasil kegiatan-kegiatan manusia yang khas untuk suku bangsa atau masyarakat tertentu. Seperti apa yang dikatakan oleh Ralph Linton, seorang pakar Anthropology, “Kebudayaan adalah seluruh cara kehidupan dari masyarakat dan tidak hanya mengenai sebagian tata cara hidup saja yang dianggap lebih tinggi dan lebih diinginkan”.

Perspektif Ethnography dan Antropologi Pada Kerangka Etnisitas
Naluri manusia yang tidak pernah puas dengan apa yang dimilikinya, memaksa mereka meninggalkan kampung halaman. Begitu juga penjelajahan yang dilakukan oleh bangsa-bangsa Eropa. Sebelum abad 18 mereka sudah mulai menjelajah kepelosok dunia. Dari pelayaran dan perjalanan itu didapat pengalaman dalam perjumpaan dan pergulan dengan suku-suku bangsa lain. Yang menarik lagi, bangsa-bangsa Eropa itu selalu mencatat baik kondisi alam maupun karakter masyarakat di daerah-daerah yang mereka kunjungi. Kemudian muncullah Anthropology, yang dipelopori oleh penjelajah-penjelajah dari Eropa itu seperti Ibnu Batutah, Vasco de Gama dan Alfonso d’abulquerque. Mereka sangat gemar berlayar dan mempelajari pola hidup masyarakat yang mereka jumpai. Karena banyaknya catatan empirik dari perjumpaan-perjumpaan dengan bangsa lain, mereka mengeluarkan gagasan baru yang disebut ancient imperialism (imperalisme kuno). Dalam gagasannya ini ada tiga misi besar yang menggambarkan tujuan mereka menjelajah dunia yaitu gospel (penyebaran agama nasrani), gold (mencari kekayaan) dan glory (mencari kejayaan). Misi ini dikerjakan dengan agressif, terbukti dengan banyaknya bangsa Eropa berdatangan ke Nusantara seperti Spanyol, Portugis, Inggris, Perancis dan Belanda. Bahkan negara-negara tersebut sempat menjajah bangsa kita selama berabad-abad secara bergulir. Selain ke Nusantara mereka juga melakukan ekspansi yang besar-besaran ke negara lain terutama di wilayah benua Asia. Hampir semua negara di kawasan Asia Tenggara pernah dijajah oleh bangsa-bangsa barat.

Dalam perkembangannya anthropology dibagi dalam empat fase. Fase pertama ditandai dengan penjelajahan dan pelayaran bangsa Eropa mendatangi suku-suku bangsa di Asia, Afrika dan Amerika. Pada fase inilah (sebelum abad 18) lahirnya Ethnography sebagai bahan pengetahuan walaupun sifatnya masih kabur. Fase kedua (pertengahan abad 19) ethnography mampu menjelaskan suku-suku bangsa dengan berlandaskan pemikiran sehingga deskripsinya sudah tidak kabur dan bertambah jelas. Pada fase ini pula munculnya Anthropology. Fase ketiga (awal abad 20) Anthropologi dikenal sebagai ilmu yang paraktis yang bertujuan mempelajari masyarakat modern dan suku bangsa di luar Eropa guna kepentingan kolonialisme. Kemudian fase yang ke empat Anthropology memiliki dua tujuan pokok yaitu tujuan akademikal dan tujuan praktis. Tujuan akademikal yaitu mempelajari manusia dalam anekawarna bentuk fisik, masyarakat, dan kebudayaan. Sementara tujuan praktisnya adalah untuk mempelajari manusia dalam anekawarna, masyarakat, suku bangsa untuk menyatukan suku bangsa tersebut dalam hidup berbangsa dan bernegara.

Stereotype Etnis Yang Cenderung Negatif
Ada banyak perbedaan antara filsafat-filsafat barat dan timur. Contoh saja filsafat bangsa Indonesia, dalam perjalan historic, bangsa Indonesia tidak mempunyai misi-misi ekspansi seperti gospel, gold, glory bangsa barat waktu imperalisme kuno atau vini, vidi, vici-nya bangsa perancis. Kejayaan bangsa kita tidak meletakkan kekuasaan sebagai misi utama namun lebih pada bagaimana menyatukan kepulauan-kepulauan yang terpisah itu untuk membentuk Nusantara. Pada zaman Majapahit dan Sriwijaya misalnya, kedua kerajaan ini sama sekali tidak menjajah bangsa-bangsa lain namun lebih pada bagaimana menyatukan kerajaan-kerajaan kecil yang ada di Nusantara. Naluri ekspansi kita yang rendah inilah yang justru mudah di masuki arus bangsa-bangsa barat.

Ketika berbicara tentang orang timur, maka akan diidentikan dengan suku bangsa yang tidak modern, bodoh, miskin, terbelakang dan berpola pikir irrasional karena kepercayaan mereka dengan mistik sangat kuat. Begitu juga ketika berbicara tentang orang dayak maka deskripsinya adalah suku pedalaman, tanpa pakaian, masih buta huruf dan hidupnya masih bergantung dengan alam. Atau dengan suku bugis atau madura, diidentikan dengan suku yang berwatak keras, tidak mau mengalah walaupun diposisi salah. Padahal kenyataannya tidak seperti itu, suku-sukuu bangsa tersebut memiliki peradabanya sendiri-sendir yang mana nilai-nialai sosial dan kemanusian sangat tinggi. Konsep-konsep negatif yang tidak membangun itulah yang malah populer di masyarakat kita, sampai-sampai ada seorang bapak yang melarang anaknya berhubungan dengan suku tertentu.

Sebaliknya ketika membincangkan orang barat, maka gambaran yang akan muncul di benak kita adalah suku berkulit putih, hidup modern, maju, kaya, pintar, dll, intinya semua yang baik akan di asumsikan kesitu. Pola-pola semacam ini sangat sulit dihindarkan dari pandangan masyarakat umum, seolah-olah sudah mendarah daging. Karena stereotype negatif ini, filsafat-filsafat lokal dari masing-masing suku yang masih relevan dengan konteks kondisi hari ini tertutupi. Sehingga publik lebih melihat pada segi negatifnya bukan pada positifnya. Misalnya berbincang suku bugis, dari segi positifnya mereka adalah komunity yang giat dan gigih bekerja, semangat mereka berdagang sangat tinggi. Namun publik lebih suka mengobral kekurangannya, justru persoalan-persoalan pandangan public inilah yang memicu mencuaknya konflik. Dan tugas kita bersama sebagai bangsa yang memahami pluralisme membendung arus konflik dengan gerakan-gerakan kebangsaan yang lebih mementingkan kepentingan society bukan etnis atau agama tertentu.

Politisasi Etnis dan Agama
Walaubagaimanapun perbedaan itu tidak bisa dihindari. Nusantara terbentuk karena kesepakan komunititas-komunitas yang berbeda, wilayah, suku, budaya, agama dan keyakinan yang berbeda pula. Semangat kebangsaan untuk membangun konstruk sosial dan budaya yang melandasi kesamaan persepsi dan prinsip beragam etnis dan umat beragama itu. Namun realita yang ada menunjukkan masing-masing etnis mengedepankan ego mereka. Ego menguasai birokrasi, ingin dipandang besar dan berjaya yang melalaikan semangat kebangsaan. Fenomena ini muncul bukan tanpa alasan tapi karena ketidakpuasan mereka terhadap kinerja pemerintah selama ini yang mendiskriminasikan suku tertentu. Semua suku merasa sama-sama tidak diperhatikan, ditindas dan dirugikan melalui kebijakan-kebijakan pemerintah. Kemudian kondisi itu dimanfaatkan oleh tokoh-tokoh politik guna menyukseskan misi partai mereka. Ketika momen pilgub atau pilkada maka bendera-bendera kesukuan muncul bertebaran membanjiri lapangan waktu kampanye. Mobilisasi etnis dikerahkan dan para calon membuat yel-yel dengan bahasa kesukuan pula. Sesungguhnya apa yang terjadi ini malah menambah benih-benih krisis Nasionalisme. Penyakit yang membutuhkan terapi panjang untuk penyembuhannya.

Kemudian banyaknya partai-partai politik baru berlabel agama yang terbentuk pasca Orde Baru tidak betul-betul menegakkan syariat mereka. Penulis meyakini bahwa semua ajaran agama ketika diamalkan bertujuan untuk menciptakan perdamain hidup manusia bukan sumber malapetaka dan bencana. Namun kenyataan menunjukkan pada bangsa ini, bahwa para elite politik yang sekaligus umat beragama belum mampu menterjemahkan nilai-nilai ajaran agama mereka. Logo agama yang disandang partai-partai politik sama sekali tidak merealisasikan nilai ajaran agama, buktinya banyak anggota DPR dari parpol yang berlabel agama terbukti korup. Agama seharusnya tidak dipolitisir untuk mendapatkan simpati masyarakat dengan misi keagamaan tertentu. Bisa dikata bahwa pemetaan kwantitas konstelasi agama ada mayoritas dan minoritas. Bukan berarti elite-elite politik itu harus menggiring umat agamanya masing-masing untuk menyukseskan misi-misi politik partai mereka belaka. Dan ketika sudah jadi, persoalan-persoalan sosial, kemanusian, kelaparan, kemiskinan dan kebodohan yang pernah di ulu-ulukan waktu kampanye akan diabaikan. Sulit memang, hari ini masyarakat mempercayai mereka. Dan semoga saja para pemimpin bangsa ini kedepannya lebih serus memperhatikan persoalan rakyat.

Selanjutnya......